WELCOME TO MY WORLD

Kamis, 17 Juli 2008

TUGAS FILSAFAT :Pengertian Filsafat

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata, philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.


Pada awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya.”


Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai “Himbauan kepada kebijaksanaan”.


Harun Nasution beranggapan bahwa kata filsafat bukan berasal dari struktur kata Philos dan shopia, philos dan shophos atau filosofen. Tetapi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang struktur katanya berasal dari kata philien dalam arti cinta dan shofos dalam arti wisdom. Orang Arab menurut Harun memindahkan kata Philosophia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan tabi’at susunan kata-kata bahasa Arab, yaitu filsafat dengan pola (wajan) fa’lala, fa’lalah, dan fi’la. Berdasarkan wajan itu, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya disebut falsafat atau Filsaf.


Harun lebih lanjut menyatakan bahwa kata filsafat yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya bukan murni berasal dari bahasa Arab sama seperti tidak murninya kata filsafat terambil dari bahasa Barat, philosophy. Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu Fil diambil dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab. Sehingga kata filsafat, adalah gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat didefinisikan sebagai:
1.Pengetahuan tentang hikmah
2.Pengetahuan tentang prinsip atau dasar
3.mencari kebenaran
4.Membahas dasar dari apa yang dibahas


Ali Mudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Phyloshophy (Inggris), Philosophie (Jerman, Belanda dan Perancis). Semua kata itu, berasal dari bahasa Yunani Philosphia. Kata philosophia sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu Philien, Philos dan shopia. Philien berarti mencintai, philos berarti teman dan sophos berarti bijaksana, shopia berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, menurut Ali Mudhafir ada dua arti secara etimologi dari kata filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philien dan shopos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (ia menjadi sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan shopia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat menjadi kata benda)

http://xipemai.wordpress.com

Philos artinya cinta; atau philia berarti persahabatan, kasih sayang, kesukaan pada, atau keterikatan pada. Sophia berarti hikmah (wisdom), kebaikan, pengetahuan, keahlian, pengalaman praktis, dan intelegensi

http://gusmus1924.blogspot.com

TUGAS FILSAFAT : Mengapa berfilsafat?

Manusia berfilsafat karena manusia ingin tahu rahasia alam semesta dan segala peristiwa yang ada di dalamnya. Why is there something rather there nothing (mengapa ada sesuatu dan bukannya ketiadaan semata). Mengapa ada manusia; mengapa ada kematian; penderitaan; ketidakadilan; kejahatan? Kemudian pertanyaanya berlanjut “Apa penyebab adanya segala sesuatu? Apa penyebab penderitaan dan keberadaan manusia? Setelah itu manusia mulai bertanya “apa arti segala sesuatu?” apa arti perang, penderitaan, hidup manusia, kedamaian, kematian dsb. Dalam wilayah ini manusia tidak lagi bertanya mengenai “penyebab” tapi “mengapa ada kematian” Apa tujuan hidup? Apa makna di balik penderitaan? Apakah penderitaan itu memanusiakan manusia atau sebaliknya?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong manusia untuk berfilsafat. Kehausan manusia untuk mencari jawaban terhadap segala hal yang dipertanyakannya. Dalam berfilsafat manusia tidak terbatas terhadap hukum-hukum alam dan kitab suci manapun. Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris yang membatasi dirinya pada bidangya masing-masing seturut hukum dan aturannya. Sementara filsafat selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang memungkinkan penciptaan-penciptaan baru.

Filsafat bermula dari sebuah pertanyaan. Ada beberapa hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat yaitu:

Pertama, ketakjuban. Ketika manusia takjub terhadap peristiwa-peristiwa alam, gaib dan segala sesuatu yang memungkinkan manusia untuk kagum. Bagi Plato pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan lagit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Padangan ini semakin diperjelas oleh Aristoteles. Menurutnya karena takjub manusia mulai berfilsafat. Sementara bagi Immanuel Kant ( abad 1 8)bukan hanya takjub terhadap alam ini, melainkan ia juga terpukau memandang hukum moral dalam hatinya, sebagaimana tertulis di batu nisan kuburannya : coelum stellatum supra me, lex moralis intra me (bintang di langit di atasku, tapi hukum moral ada di bawahku).

Kedua, ketidakpuasan. Manusia tidak puas akan jawaban dari mitos-mitos terhadap segala pertanyaanya. Maka manusia mulai mencari jawaban yang meyakinkan dirinya dan bersifat pasti. Akhirnya lambat laun manusia mulai berpikir secara rasional. Akibatnya akal budi mulai berperan. Maka lahirlah filsafat.

Ketiga, hasrat bertanya. Hasrat bertanya membuat manusia mempertanyakan segalanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diwujudkan itu tidak hanya sekedar terarah pada wujud sesuatu, melainkan juga terarah pada dasar dan hakikatnya. Inilah salah satu yang menjadi ciri khas filsafat. Mempertanyakan segala sesuatu dengan cara berpikir radikal, sampai ke akar-akarnya, tetapi juga bersifat universal.

Keempat, keraguan. Pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh kejelasan yang pasti pada hakikatnya merupakan suatu pernyataan tentang adanya atau apriori (keraguan atau ketikdakpuasan dan kebingungan) di pihak manusia yang bertanya. Keraguan ini merangsang manusia untuk terus bertanya. Kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.

Sumber : http://noveonline.wordpress.com

Selasa, 15 Juli 2008

TUGAS FILSAFAT : SIGMUND FREUD TENTANG ID, EGO DAN SUPER EGO

Id, merupakan bagian dari alam bawah sadar manusia, yaitu fungsi yang bersifat irasional dan emosional dalam pikiran, didominasi oleh prinsip-prinsip kesenangan. Freud menyatakan bahwa Id mengandung ‘segalanya yang diwariskan, yang ada saat kelahiran, yang tetap berada dalam kejasmanian - di atas semuanya, dengan demikian, adalah insting, yang berasal dari organisasi somatik dan yang menemukan ekspresi kejiwaan pertamanya dalam id pada bentuk yang tidak kita ketahui.”[1] Id adalah pikiran primitif yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar. Pikiran bayi yang baru lahir sepenuhnya dikendalikan oleh Id, yang hanya memikirkan kepuasan mengenai perasaan dan kebutuhan dasar

Bagian kedua, yaitu Ego, berkembang di saat umur si anak mencapai kurang lebih tiga tahun, ketika ia mulai berinteraksi dengan dunia di luar dirinya. Ego, menurutnya, ‘memiliki tugas akan pemeliharaan-diri… yang dilakukannya dengan waspada terhadap rangsangan dari luar, dengan mengingat pengalamannya (dalam memori), dengan menghindar dari rangsangan yang berat (melalui pelarian diri), dengan berkompromi dengan rangsangan yang lebih ringan (melalui adaptasi), dan akhirnya, dengan belajar melakukan modifikasi-modifikasi tertentu pada dunia eksternal untuk memberikan keuntungan pribadi (melalui aktivitas)… dalam hubungannya dengan id, ego melakukan tugasnya dengan mengontrol insting.”[2] Mengenai Ego, Freud menggunakan analogi penunggang kuda, di mana Ego sebagai penunggangnya dan Id sebagai kudanya, di mana si kuda memberikan tenaga dan alasannya sementara sang penunggang mengontrol arah ke mana si kuda melaju (namun di saat-saat yang sulit, si kuda kadangkala mengambil keputusan sendiri pada dataran yang berbatu tajam).

Sementara bagian terakhir, Super-Ego, menyimbolkan suatu figur ayah dan regulasi kultural. Super-Ego merupakan bagian moral dari pikiran, yang terdapat pada area bawah sadar, di mana ia menyimpan nilai-nilai parental dan masyarakat; dan merupakan lawan bagi Id. Super-Ego terbentuk pada penolakan terhadap Oedipus complex, oleh identifikasi dan internalisasi figur ayah setelah sang anak lelaki (menurut Freud Super-Ego dimulai di usia lima tahun) tak dapat memperlakukan ibunya sebagai obyek cinta karena takut dikebiri:

‘Super-Ego mempertahankan peran ayah, yang sebelumnya merupakan Oedipus complex yang lebih kuat yang dengan cepat jatuh pada penindasan (di bawah pengaruh otoritas, pengajaran agama, sekolah, dan sumber bacaan), si penindas di kemudian hari menjadi dominasi super-ego terhadap ego - dalam bentuk kesadaran penuh atau mungkin rasa bersalah di bawah sadar.’ [3]

Super-Ego menyempurnakan peradaban seorang manusia, menekan segala desakan Id yang tak dapat diterima serta berusaha agar Ego bertindak pada standar-standar idealis daripada prinsip-prinsip realistik. Freud menggambarkan Super-Ego sebagai ‘bukan hanya kepribadian orang tua itu sendiri, namun juga tradisi keluarga dan ras yang diwariskan melalui mereka… Super-Ego seorang individu dalam perkembangan dirinya mengambil alih kontribusi dari pewaris dan pengganti orang tuanya di kemudian hari.’[4]

Super-Ego terdiri dari dua bagian, Ego Ideal dan Hati Nurani (Conscience). Ego Ideal merupakan kumpulan peraturan-peraturan yang diakui dan disetujui oleh orangtua dan figure otoritatif lainnya; serta merupakan standar bagi kelakuan-kelakuan yang baik. Mengikuti Ego Ideal akan membawa individu kepada kebanggaan dan keberhasilan. Sementara Hati Nurani mengandung informasi mengenai kelakuan-kelakuan yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat, di mana pelanggaran terhadap Hati Nurani akan mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang buruk seperti hukuman, perasaan bersalah dan penyesalan.

Super-Ego sangat berkaitan dengan Hati Nurani, di mana Super-Ego bertindak sebagai hati nurani yang mempertahankan rasa moralitas seseorang dan menjauhi hal-hal yang tabu, meskipun Super-Ego merupakan wilayah bawah sadar sementara Hati Nurani terdapat pada pikiran sadar kita.


Jadi Id, ego da super ego memilki kesamaan berupa sama-sama bekerja di alam bawah sadar seseorang. Id terdapat ketika bayi, ketika yang dipikirka hanyalah kepuasan mengenai perasaan dan kebutuhan dasar. Ego terdapat ketika seseorang berumug kurang lebih 3 tahun, ego bertugas sebagai pengontrol instingnya. Sedangkan super ego terdapat ketika berumur lima tahun, inilah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainya. Karena bukan hanya berpikir, namun manusia juga berbudaya sehingga timbullah peradaban.

TUGAS FILSAFAT : TEORI MASLOW

Kontribusi Abraham Maslow (1908 - 1970) yang terbesar bagi dunia psikologi adalah teorinya mengenai Hierarki Kebutuhan (Hierarchy of Needs). Teori ini dimunculkan dalam karyanya A Theory of Human Motivation, pada tahun 1943.

Hierarki Kebutuhan Maslow biasanya digambarkan dengan bentuk piramid sehingga disebut Piramida Maslow. Hierarki ini, menggambarkan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia (basic needs) terdiri dari lima tingkatan, keempat tingkat terbawah digolongkan menjadi satu sebagai D-needs (deficiency needs atau kebutuhan defisiensi) dan berkaitan dengan kebutuhan fisiologis; sementara tingkat teratas merupakan B-needs (being/growth needs atau kebutuhan untuk menjadi atau bertumbuh).

Tingkat terbawah dari kebutuhan-kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah kebutuhan-kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kebutuhan ini, seperti makan, tidur, dan lainnya; merupakan yang paling mendasari semua kebutuhan lainnya. Seseorang yang kekurangan segalanya dalam hidupnya, maka ia akan berusaha paling keras untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya di atas yang lainnya.

Munculnya kebutuhan fisiologis didasarkan atas dua aspek, yaitu homeostasis dan selera (appetite). Homeostasis merupakan usaha dari dalam tubuh sendiri untuk mempertahankan aliran darah yang konstan dan stabil. Di lain pihak, menurut Young, jika tubuh kekurangan suatu jenis elemen kimia, individu tersebut akan cenderung mengembangkan suatu selera yang spesifik atau kelaparan parsial akan jenis elemen itu.[5]

Setiap kebutuhan fisiologis dan kelakuan konsumtif yang berkaitan bertindak sebagai dasar akan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Misalnya, seseorang yang mengalami kelaparan sebenarnya termotivasi lebih kepada pencarian akan kenyamanan atau kepercayaan; bukannya pada vitamin atau protein.

Jika organisme manusia didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan fisiologisnya maka kemungkinan yang dapat terjadi adalah perubahan pada filosofi akan masa depan. Bagi seseorang yang lapar, maka Utopia bagi dia merupakan suatu tempat di mana terdapat makan yang berlimpah ruah. Namun, keadaan ini sangatlah jarang ditemukan di dunia ini. Kultur merupakan suatu perangkat adaptif, yang berfungsi untuk mengurangi kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Kelaparan yang ekstrim sangatlah sulit ditemukan di masyarakat-masyarakat yang ada.

Ketika kebutuhan-kebutuhan fisiologis telah dipenuhi, maka sekumpulan kebutuhan lainnya muncul - kebutuhan akan keamanan (the safety needs). Kebutuhan akan keamanan antara lain berupa keinginan akan pekerjaan yang memiliki jabatan dan perlindungan, keinginan untuk memiliki kepemilikan pribadi, atau asuransi, dan lainnya. Aspek yang lebih luas mengenai kebutuhan ini meliputi kecenderungan terhadap hal-hal yang familier daripada yang tidak, atau yang diketahui daripada yang tak diketahui. Kecenderungan untuk memeluk suatu agama atau filosofi (yang mengatur dunia ini) merupakan bagian dari motivasi akan pencarian keamanan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sains dan filosofi dimotivasi oleh kebutuhan ini. Di lain pihak, kebutuhan akan adalah kebutuhan yang muncul secara aktif dan dominan di keadaan-keadaan darurat, seperti perang, penyakit, bencana alam, gelombang kriminal, disorganisasi sosial, dan lain-lain.

Kebutuhan akan keamanan ini dapat dilihat dengan lebih baik pada anak kecil ataupun bayi. Sesuatu kejadian buruk yang melanda seorang anak dapat mengubah dunianya yang tadinya cerah kini menjadi penuh kegelapan, dan pada gilirannya akan mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Indikasi lainnya dari kebutuhan akan keamanan pada diri seorang anak adalah kecenderungannya terhadap rutinitas yang tak berubah. Kejadian buruk yang terjadi padanya mengakibatkan si anak merasa tidak aman; dan hal ini bukanlah karena kesakitan yang dideritanya, namun lebih karena ancaman yang muncul yang membuat dunianya menjadi sangat tidak dapat diprediksi dan dipercaya.

Kebutuhan akan cinta (the love needs) merupakan kebutuhan yang akan muncul setelah kedua kebutuhan di atas terpenuhi. Seseorang kini akan merasa lapar akan kehadiran teman, sahabat, kekasih, atau pasangan hidup, atau anak. Ia akan mencari hubungan afektif dengan orang lain lebih dari apapun yang dibutuhkannya di dunia ini.

Satu hal yang penting adalah keberbedaan antara kebutuhan akan cinta dengan seks. Seks bisa saja dipelajari sebagai suatu kebutuhan fisiologis yang murni; meskipun kelakuan seksual tidak dapat dilihat hanya dalam satu aspek, yaitu seksual saja, namun juga aspek lainnya seperti kebutuhan akan cinta. Selain itu, kebutuhan akan cinta meliputi kedua aspek, memberi dan menerima cinta.

Selanjutnya di atas kebutuhan akan cinta adalah kebutuhan akan penghargaan diri (the esteem needs). Semua orang dalam suatu masyarakat menginginkan suatu kehidupan yang stabil dan bernilai tinggi, demi penghargaan dan penghormatan baik dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain.


Kebutuhan akan penghargaan diri ini melibatkan dua kelompok. Yang pertama, merupakan hasrat akan kekuatan, akan pencapaian, akan kecukupan, akan kenyamanan di mata dunia, dan akan kemerdekaan dan kebebasan. Sementara yang kedua, adalah hasrat akan reputasi dan prestise (yang didefinisikan sebagai respek atau penghormatan dari orang lain), pengenalan, perhatian, kepentingan, atau apresiasi.

Pemenuhan kebutuhan ini akan mengakibatkan perasaan nyaman, berpunya, kuat, mampu, dan berkecukupan untuk menjadi penting di dunia. Namun kegagalan kebutuhan ini membawa orang pada perasaan inferior dan kelemahan.

Kebutuhan dasar yang terakhir dan sekaligus menempati puncak Piramida Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri (the need for self-actualization). Ketika semua kebutuhan telah dipenuhi, tetap saja akan selalu muncul ketidakpuasan hingga seseorang dapat melakukan apa yang sesuai dengan dirinya. Bila seorang dapat menjadi sesuatu, maka ia harus menjadi itu[6]; inilah yang disebut dengan aktualisasi diri.

Aktualisasi diri merujuk pada pemenuhan diri, yaitu kecenderungan seseorang untuk menjadi teraktualisasikan dalam bidang yang ia kuasai. Kecenderungan ini merupakan hasrat yang muncul untuk menjadi lebih dan lebih lagi. Wujud kebutuhan akan aktualisasi diri ini bervariasi untuk tiap individu.

Individu-individu yang mencari aktualisasi diri akan mencari pengetahuan, kedamaian, pengalaman, estetik, kesatuan dengan Tuhan, dan lain sebagainya. Karakteristik-karakteristik mengenai aktualisasi diri menurut Maslow adalah:

Persepsi yang jelas akan realitas: persepsi akurat yang jelas mengenai suatu keadaan dan kemampuan mengenali kepalsuan, serta ketidaktakutan menghadapi ketidaktahuan.

Penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain, dan sekitarnya: ketidakmaluan menerima kelemahan dan kecacatan dalam dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya.

Spontanitas, tidak konformis: tindakan spontan dalam kehidupan namun bukan di luar aturan.

Terpusat pada pemecahan masalah: ketertarikan untuk memecahkan masalah.

Privasi dan kebutuhan untuk menyendiri: kebertahanan untuk tetap tak terganggu, yang dapat menyebabkan sikap asosial.

Otonomi, independen terhadap lingkungan dan kultur yang ada: ketidaktergantungan terhadap orang lain atau kebudayaan di luar, namun lebih kepada pertumbuhan dan perkembangan diri sendiri.

Apresiasi segar yang berkelanjutan terhadap kehidupan sekitar: keberlanjutan apresiasi terhadap kesenangan-kesenangan mendasar dalam hidup.

Pengalaman mistik atau pengalaman puncak: pengalaman yang menguatkan dan mengubah diri serta meninggalkan kesan yang mendalam.

Kesatuan dengan kemanusiaan: identifikasi, simpati, dan afeksi kepada orang lain, dan secara umum terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Relasi antarpersonal yang dalam: kedekatan, cinta, dan pengenalan yang lebih dalam dari yang biasanya, dan biasanya pada sekelompok kecil teman.

Watak demokratis: penghormatan terhadap setiap orang dan keinginan untuk belajar darinya.

Etika yang berujung pada moral: pembedaan yang jelas antara maksud dan tujuan serta pemahaman akan kebaikan dan keburukan serta kebenaran dan kesalahan yang umumnya berbeda dengan orang lain.

Rasa humor filosofis yang tak menyakitkan: humor cerdas yang intrinsik dan spontan.

Kreativitas dan imajinasi: cara pandang terhadap sesuatu yang segar dan langsung serta naif.

Jadi, teori hierarkis kebutuhan maslow mencangkup:
1. kebutuhan-kebutuhan fisiologis (physiological needs)
2. kebutuhan akan keamanan (the safety needs)
3. Kebutuhan akan cinta (the love needs)
4. kebutuhan akan penghargaan diri (the esteem needs)
5. kebutuhan akan aktualisasi diri (the need for self-actualization)

dari kelima hierarki yang telah disebutkan di atas, manusia lebih cenderung mengutamakan masalah kebutuhan pisiologis daripada kebutuhan yang lainnya

ORANG-ORANG BIJAK BERKATA..

Manusia terbagi kedalam 4 golongan :

  1. Orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia megerti, itulah orang yang pandai, maka ikutilah dia
  2. Orang yang mengerti tapi tidak mengerti bahwa ia mengerti, itulah orang yang lalai, maka peringatilah ia
  3. Orang yang tidak mengerti dan ia mengerti bahwa ia tidak mengerti, itulah orang yang sadar diri, maka ajarkanlah ia
  4. Orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti, itulah orang yang bodoh, maka tinggalkanlah ia

Senin, 26 Mei 2008

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN



1. ESENSIALISME

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.

Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman

Tokoh-tokoh Esensialisme

1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)
Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.

2. George Santayana
George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.

Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan
1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.

belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.

2.Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat


2. PROGRESIVISME
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.

Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar "naturalistik", hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya

Tokoh-tokoh Progresivisme
1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.
2. John Dewey (1859 - 1952)
Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas
3. Hans Vaihinger (1852 - 1933)
Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.

filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes
(fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.
Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.

Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.
Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.




3. PERENIALISM

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.

Pandangan perenialisme tentang pendidikan

kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Tokoh-tokoh Perenialisme
1. Plato
Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan
2. Aristoteles
Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral
3. Thomas Aquinas
Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata

4. REKONSTRUKSIONISME

Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran

proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia.





Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg

Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.



DAFTAR PUSTAKA

wahyudisy.blogspot.com
id.wikipedia.org/wiki/Progresivisme
mawardiumm.blogspot.com
pakguruonline.pendidikan.net
wahyudisy.blogspot.com
blog.persimpangan.com.

Kamis, 01 Mei 2008

cliklah kado yang ada di dalam

bgcolor="ffffff" align="middle" type="application/x-shockwave-flash" />

Selasa, 22 April 2008

STORY OF THE DAY

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."

Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.

Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."

Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

SUMBER: software islami

ANGKET SEDERHANA SEBAGAI SELF ASESSMENT

n LIMA KARAKTER GURU TERBAIK MENURUT SAYA

Ü Memotifasi: memberikan kata-kata yang selalu membuat hati semangat dalam melakukan hal yang positif.

Ü Bijaksana : dapat menempatkan sesuatu dengan bijak, tidak mementingkan ego dirinya sebagai guru yang hanya memberikan pengajaran

Ü Humoris : tidak terpaku dengan suasana yang penuh ketegangan, tetapi dapat mencairkan suasana belajar dengan kalimat-kalimat yang ringan.

Ü Toleransi : memberika dispensasi atau keringanan terhadap anak yang yang terlambat/absen karena suatu udzur.

Ü Penyabar : tidak pernah mengeluh terhadap sesuatu yang dia anggap salah

n LIMA KARAKTER GURU TERBURUK MENURUT SAYA

Ü Pemarah : selalu memberikan pengajaran dengan muka merah, suasana belajar selalu tegang dengannya.

Ü Tidak perhatian : menganggap semua masalah yang ada pada diri murid masa bodoh

Ü Individualis : menganggap dirinya selalu benar dan tidak memberikan peluang bagi murid untuk mendiskusikan masalah

Ü Tidak berkompetensi : mengajar hanya berdasarkan apa yang tertera dalam buku, tidak mengikuti perkembangan zaman dalam masalah pedidikan dan teknologi.

Ü Tidak bertanggung jawab : jarang masuk ruang kelas tanpa keterangan

Selasa, 01 April 2008

KREATIVITAS

Kreatif….nampaknya kata tersebut sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Manusia yang diberi kelebihan oleh sang Penciota berupa akal, sangatlah mudah untuk membuat sesuatu yang kreatif. Dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, suatu barang selain digunakan untuk keperluannya namun dengan suatu kreativitas, barang tersebut bias memiliki banyak fungsi.

Contohnya saja ketika dulu saya belajar di sebuah pesantren, ketika saya hendak mandi saya tidak memiliki tempat sabun. Karena terhimpit oleh kebutuhan yang lain yang lebih penting maka saya tidak membelinya. Dan saya menggunakan aqua gelas bekas sebagai pengganti tempat sabun tersebut.

Dari sanalah sebuah aqua gelas menjadi multifungsi. Yang tadinya untuk kemasan air mineral, kemudian memiliki fungsi yang lain….